Sebagai salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia (sekitar 250 juta penduduk), Indonesia dipandang sebagai negara yang yang memiliki potensi menggiurkan untuk ekspansi bisnis perusahaan asing. Tengok saja perusahaan asing yang ada di Indonesia. Banyak dari mereka yang sukses hingga puluhan tahun dan menguasai market share bisnisnya. Tidak jauh bebeda dengan perusahaan franchise. Merek-merek semacam KFC, Mc Donald’s, Pizza Huts, Dunkin Donuts, adalah deretan franchise asing yang sampai kini menguasai market share di kategori bisnisnya. Mereka menikmati kue pasarnya hingga puluhan tahun. Tidak berbelihan jika saya sering mengatakan jika Indonesia hanya menjadi pasar asing saja, bukan menjadi pemain di dalam pasar yang besar ini. Buktinya franchise asing yang benar-benar franchise lebih banyak dibanding franchise lokal. Saya mencari franchise lokal sekitar 75 saja sulit sekali, yang banyak business opportunity. Apalagi dalam waktu dekat kita akan menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Maka kedatangan franchise asing secara besar-besaran pun tidak bisa dihindari. Kehadiran mereka (waralaba asing) tentunya ada plus-minus. Nilai plus-nya adalah menggairahkan bisnis franchise di Indonesia, di mana calon franchisee bisa melakukan investasi bisnis dan menambah pengusaha baru. Selain itu, pelaku franchise juga bisa belajar dari sistem bisnis franchise yang mereka bawa. Sedangkan nilai minus-nya adalah ini menjadi ancaman bagi pelaku bisnis franchise lokal yang belum siap bersaing dengan merek-merek franchise asing yang notabene sudah memiliki merek dan sistem bisnis mengglobal. Selain itu, nilai minus-nya juga ada, tidak semua franchise asing yang datang itu adalah merek-merek franchise unggulan di negaranya. Bahkan, beberapa merek franchise yang datang ke Indonesia ada yang tidak difranchisekan di Negara asalnya, sehingga identitas franchisenya meragukan. Banyak franchisee yang laporan dan mengadu ke AFI tentang status franchise asing. Beberapa master franchisee Indonesia tidak mendapatkan support memadai, bahkan ada yang tidak mendapat apa-apa sama sekali. Setelah diinvestigasi di negara asalnya memang bukan franchise. Hal ini yang harus menjadi perhatian para calon franchisee dan master franchise yang ingin membeli franchise asing. Harus dilihat dahulu di negara asalnya. Paling sederhana merek franchise tersebut harus lah anggota asosiasi franchise di negara setempat. Kalau perlu tanyakan kepada para franchieenya di Negara asalnya. Jangan asal beli saja karena harganya murah, jangan membeli kucing dalam karung. Jadi sekali lagi, harus selektif dan hati-hati membeli franchise dari luar. Sebab dipameran saja, seringkali banyak usaha-usaha yang belum jelas status franchisenya tapi ikut di pameran franchise Indonesia dan berani menawarkan franchise. Bahkan beberapa peserta pameran asing ada yang berani menjual semacam coffee shop yang baru sebatas konsep bisnis, padahal di negaranya memang belum jalan, tapi sudah berani menawarkan franchise. Nah hal semacam ini harus diperhatikan oleh pengunjung pameran franchise. Anang Sukandar ? Ketua Asosiasi Franchise Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here